loader image

Menyediakan Bumbu Dapur Utuh Kering dan Coconut Palm Sugar

Jamu merupakan minuman herbal yang sudah dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia sejak dahulu kala. Salah satu bahan yang sering digunakan dalam minuman tersebut adalah kayu secang. Kayu ini awalnya ditemukan oleh seorang berkebangsaan Spanyol dan beliau menyebutnya dengan kayu Brazil sesuai tempat ia berasal. Masyarakat Indonesia mengenalnya dengan berbagai nama, seperti seupeng (Aceh), roro (Tidore), sappang (Makassar), suang (Bima) dan masih banyak lagi.

Kayu ini biasanya direbus dan dinikmati sebagai wedang uwuh, bahkan sebelum ada penelitian modern mengenai manfaatnya. Saat kayu merah ini diteliti, selain memiliki banyak nama, kayu secang memiliki banyak manfaat untuk kesehatan.

Manfaat Kayu Secang untuk Kesehatan

  1. Menurunkan kadar gula

Konsumsi gula yang berlebih dapat menyebabkan naiknya gula darah. Kenaikan gula darah yang tidak terkontrol dapat berlanjut menjadi penyakit diabetes. Kayu secang memiliki senyawa brazilin yang terbukti mampu menurunkan gula darah menurut penelitian di Asian Pacific Journal of Tropical Medicine (Juni 2015). Zat ini pulalah yang memberikan warna merah pada kayu secang.

  1. Mengatasi jerawat

Zat brazilin dalam penelitian yang sama ternyata juga memiliki kemampuan sebagai antijerawat. Ia dapat pula berperan sebagai antiinflamasi sehingga selain dapat menuntaskan jerawat, ia juga dapat mencegah iritasi.

Jerawat yang dapat disembuhkan oleh kayu secang

(Sumber Foto: Jmexclusives/Pixabay.com)

  1. Mengandung antibakteri

Artikel Brazilin from Caesalpinia Sappan Heartwood and Its Pharmacological Activities: A Review menjelaskan lebih lanjut bahwa kayu secang memiliki antibakteri yang sangat berguna untuk berbagai penyakit mulut. Zat brazilin sebagai antibakteri aktif memerangi bakteri Streptococcus mutans yang menyebabkan karies pada gigi. Ia juga musuh untuk bakteri Prevotella intermedia penyebab infeksi gigi dan beberapa bakteri penyebab radang tengorokan.

  1. Mampu meredakan nyeri

Dikutip dari artikel yang sama, zat brazilin ternyata juga berperan sebagai antikonvulsan alami. Hal ini berarti ia mampu mengajasi kejang dan mampu meredakan nyeri otot.

  1. Menurunkan tekanan darah

Brazilin nyatanya juga memiliki efek menurunkan tekanan darah bagi penderita hipertensi. Adapun zat lain di dalam kayu secang yang memberikan efek yang sama adalah xanthone, chalcone, dan flavonoid.

  1. Penangkal radikal bebas dan kanker

Jurnal Secang (Caesalpinia sappan L.): Tumbuhan Herbal Kaya Antioksidan yang dibuat oleh Balai Litbang Lingkungan Hidup dan Kehutanan Makassar menjelaskan bahwa senyawa brazilin dan terpenoid berperan sebagai antioksidan yang mampu menangkal berbagai radikal bebas. Saat tubuh Anda bersih dari radikal bebas, potensi berkembangnya kanker di dalam tubuh dapat ditekan secara signifikan.

Kayu Secang untuk Ibu Hamil dan Menyusui

Walaupun memiliki banyak manfaat, banyak sumber yang mengatakan bahwa kayu secang tidak disarankan untuk dikonsumsi oleh ibu hamil dan menyusui. Hal ini dikarenakan salah satu manfaatnya yang mampu menurunkan tekanan darah. Ibu hamil biasanya memiliki tekanan darah rendah karena hormon dan bebrapa penyebab lain. Dikhwatirkan dengan mengosumsi kayu secang akan membuat tekanannya lebih rendah dan berbahaya bagi ibu dan janin.

Kayu secang tidak disarankan untuk ibu hamil

(Sumber Foto: Freestocks/Unsplash.com

Ibu yang sedang menyusui memiliki masalah yang sama, yaitu tekanan darah rendah yang disebabkan oleh berbagai faktor. Salah satunya adalah terganggunya hormon, kurangnya asupan asam folat atau vitamin B12.

Oleh karena itu, sebelum mengonsumsi kayu secang, sangat disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu.

(Sumber Foto: Etsy.com)

Secara birokrasi, saat makanan mendapatkan izin edar di dalam suatu negara, makanan tersebut sudah dipastikan aman oleh tubuh, termasuk di Indonesia. Badan Pengawas Obat dan Makanan serta Balai Kliring Keamanan Hayati adalah badan yang ditugaskan untuk memastikan bahan makanan tersebut aman dan mengawasi peredarannya di negara ini.

Walau begitu banyak pengamat nutrisi dan lingkungan tidak setuju dengan keamanan konsumsi makanan ber-GMO dalam jangka waktu panjang. Jurnal Biologi Tropis Vol. 14 No.2 edisi 2 Juli 2014 dengan judul Controversy of Genetic Engineering Product Consumed Society  merangkum kontrovesinya di berbagai bidang.

  1. Bidang pertanian dan lingkungan

        a.Adanya kemungkinan membuat tanaman beracun

Menurut S.C. Philips pada artikel berjudul Genetically Engineered Foods: Do They Pose Health and Environmental Hazards? pada tahun    1994, mengungkapkam bahwa saat memindahkan materi genetic baru terdapat beberapa kemungkinan terburuk, antara lain:

Hal-hal tersbut dapat menyebabkan mutasi tidak terduga sehingga membuat tanaman yang dihasilkan beracun, subur, atau tidak sesuai  dengan yang diinginkan.

         b. Merusak keseimbangan lingkungan

Tanaman GMO yang rentan terhadap hama dan penyakit dapat merusak keseimbangan lingkungan. Hal ini dikarekan hama pada tanaman tersebut akan lari mencari inang baru di perkebunan konvesional. Akhirnya petani harus berinvestasi terhadap tanaman GMO yang harganya lumanyan mahal. Selain itu, gulma yang biasa tumbuh di antara tanaman, memungkinkan penyerbukan silang yang menghasilkan tanaman gulma yang resisten terhadap herbasida dan pestisida.

  1. Bidang kesehatan

Menurut artikel Dentification of Brazil Nut Allergen in Transgenic Soybeans pada jurnal  The New England Journal of Medicine (1996) pada produk GMO yang telah ditarik dari peredarannya. J.A, Nordlee dan timnya membuktikan bahwa kacang Brazil menyebabkan alergi konsumennya akibat sumber-sumber non makanan dan kombinasi gen baru.

Saat ini memang hanya penelitian tersebut yang membuktikan bahaya GMO dalam makanan. Walaupun begitu, kampanye tentang bahan makanan dengan GMO terus dilakukan. Seperti yang dilakukan kelompok advokasi makanan berbasis di Washington dan dikutip dari The Newsletter of The Illinois State Bae Association’s Section on Agricultural Law oleh R.E. Robinson (2013). Advokasi ini mengkhawatirkan konsumsi bahan makanan GMO dapat menyebabkan kehilangan nutrisi, kemunculan racun baru, alergen dan efek samping potensial lainnya.

Kesimpulan yang dapat diambil ada baiknya jika kita mengurangi bahkan tidak mengomsumsi bahan makanan yang mengandung GMO. Tidak ada kata ‘terlalu berhati-hati’ untuk kesehatan kan?

(Sumber Foto: Markus Spiske/Unsplash.com)

Dari artikel perbedaan rempah segar dan rempah yang dikeringkan, kita dapat pula menyimpulkan bahwa terdapat peningkatan konsumsi bahan makanan organik di Indonesia. Ini berarti kesadaran masyarakat akan pentingnya memilih bahan makanan organik juga meningkat. Apakah yang melandasi kesadaran tersebut?

Dirangkum dari helpguide.org, produk organik memiliki beberapa keunggulan, yaitu:

Pada pertanian konvesional penggunaan bahan kimia seperti fungisida, herbisida dan insektisida bukanlah hal yang jarang terjadi. Sisa dari zat kimia tersebut seringkali masih menempel di makanan yang kita makan.

Karena produk organik tidak mengandung pengawet untuk membuatnya tahan lama, mereka biasanya dijual dari tempat yang tidak jauh dari pertanian mereka tumbuh.

Pertanian organik dinilai dapat mengurangi pencemaran, mengurangi erosi tanah, meningkatkan kesuburan tanah dan mengunakan energi yang lebih sedikit. Pertanian dengan mengunakan pestisida buatan sendiri juga lebih baik untuk hewan beserta orang-orang yang tinggal di sekitar pertanian tersebut.

Genetically Modified Organisms (GMO) atau Genetically Engineered (GE) adalah bahan makanan yang DNA-nya telah diubah sedemikian rupa sehigga ia lebih kebal terhadap pestisida atau lebih kebal terhadap serangga. Hal ini juga dapat disebabkan oleh perkawinan silang tradisional.

Selain itu, membeli bahan makanan lokal juga penting. Bahan makanan ini memiliki beberapa definisi. Lokal dapat berarti tanaman tersebut tumbuh di komunitas lokal, satu kota, satu provinsi atau satu negara.

Adapun beberapa manfaat yang dapat menjadi pertimbangan Anda untuk membeli bahan makanan lokal.

Uang akan berputar di lingkungan komunitas Anda. Lebih banyak uang ke petani daripada uang ke marketing dan distribusi.

Seperti yang terjadi di USA, jarak rata-rata yang bahan makanan tempuh sampai ke meja makan sejauh kurang lebih 2.400 km. Bahan makanan tersebut dipetik saat bahan tersebut belum matang dan diberi zat untuk memetangkannya setelah sampai di tempat tujuan. Atau sebelumnya bahan tersebut diproses di pabrik menggunakan bahan pengawet, sinar radiasi atau dengan cara yang lainnya untuk menstabilkan bahan tersebut saat pengangkutan.

Bahan makanan lokal dipanen saat makanan tersebut sudah matang sehingga citarasanya keluar secara menyeluruh. Beberapa petani lokal menggunakan cara bertani organik tetapi tidak mampu membayar sertifikat organik. Anda tentu dapat menanyakannya langsung kepada mereka tentang metode apa yang mereka gunakan.

(Sumber Foto: Wikimedia.org)

Konsumsi bahan makanan organik di Indonesia semakin tahun semakin meningkat. Tahun 2011, makanan organik dikonsumsi oleh 15 juta penduduk menurut sebuah riset berjudul ‘Current Status of Organic Farming’ yang diunggah melalui balittanah.litbang.pertanian.go.id. Lebih lanjut, menurut aoi.ngo tahun 2019 pertumbuhan pasar organik mencapai angka 15% – 20%.

Pandemi di tahun 2020 menyulitkan banyak orang untuk mendapatkan akses bahan makanan segar. Banyak dari mereka akhirnya menimbun makanan segar untuk konsumsinya beberapa hari ke depan. Dari sinilah, banyak perusahaan berinovasi untuk memberikan masyarakat makanan organik yang sehat dan tahan lama. Termasuk di dalamnya adalah rempah atau bumbu masak yang selalu dijumpai di masakan Indonesia.

Agar lebih tahan lama, rempah dikeringkan. Bahkan banyak pula perusahaan yang menumbuk rempah tesebut sehingga berubah menjadi bubuk.

Lalu pernahkah terpikirkan oleh Anda, apakah nutrisi antara rempah segar dan rempah yang dikeringkan sama?

Mengutip dari Superfoodly.com, bumbu yang dikeringkan memiliki kandungan antioksidan yang lebih tinggi daripada rempah segar. Hal ini dikarenakan rempah segar sebagian besar kandungannya adalah air. Walau adanya pengurangan kandungan antioksidan saat pemrosesan, namun kandungan antioksidan di rempah yang dikeringkan jauh lebih tinggi.

Hal ini dibuktikan oleh penelitian USDA (Kementerian Pertanian Amerika Serikat) yang menguji kandungan nutrisi antara parsteli segar dan parsteli yang dikeringkan. Data yang diperoleh adalah sebagai berikut:

Parsteli segar: 87.71% air (12,29% bahan aktif)

Parsteli kering: 4,89% air (94,11% bahan aktif)

Proses pengeringan hampir dapat menghentikan proses penurunan kualitas

Kadar air yang dikeluarkan akan memperlambat proses pemecahan senyawa. Itulah alasan mengapa rempah segar Anda akan membusuk dalam hitungan hari walau disimpan di lemari es, sedangkan rempah kering dapat bertahan bertahun-tahun walau hanya disimpan di dalam lemari. Meski warna rempah Anda masih terlihat bagus, namun bukan berarti nutrisi yang dikandungannya tidak mengalami penurunan.

Saat tumbuhan dipisahkan dari tanah atau tempatnya bernaung seperti pohon, proses penurunan kualitas dan pembusukan segera dimulai. Pada saat mereka mencapai supermarket, hanya sebagian kecil dari antioksidan yang tersisa.

Adapun proses penurunan kualitas dipengaruhi oleh beberapa faktor:

  1. Penanganan setelah dipanen

Penanganan produk yang dipanen dapat dilakukan dengan berbagai cara misalnya produk diberi sinar radiasi, menggunakan sinar ultraviolet, atau dilapisi dengan zat pengawet kimia.

  1. Tipe tumbuhan

Cepat lambatnya suatu tanaman atau rempah membusuk juga ditentukan oleh tipe tumbuhan atau rempah tersebut. Misalnya kacang polong akan kehilangan 15% kandungan vitamin C setelah berada di freezer dengan suhu -4oC sedangkan sedangkan kacang buncis akan kehilangan 87% di suhu yang sama.

  1. Temperatur, cahaya dan oksigen

Semakin sedikit rempah terpapar dengan ketiga komponen tersebut maka semakin banyak nutrisi baik yang disimpan oleh rempah tersebut.

Proses pengeringan dapat dilakukan dengan beberapa metode

Missouri.edu mengklaim bahwa metode paling unggul adalah dengan menggunakan food dehydrator. Saat Anda menggunakan oven, makanan yang dikeringkan akan termasak terlebih dahulu sebelum mengering, sehingga akan menghasilkan rasa yang overcooked. Menggunakan tenaga matahari merupakan alternatif yang dapat dicoba namun kondisi cuaca yang tidak dapat diprediksi menjadi halangan. Selain itu debu tanpa disadari dapat menempel pada makanan yang dikeringkan dengan cahaya matahari.

Kesimpulan

Jadi jika Anda membeli bahan segar, ada baiknya untuk segera dikonsumsi. Karena semakin lama disimpan, kualitas dan nutrisinya akan semakin menurun. Namun, jika Anda tipikal yang sibuk, ada baiknya membeli bahan kering sehingga Anda tidak perlu khawatir tentang penurunan kualitas dan bahan tersebut mampu bertahan lebih lama.

(Sumber Foto: Monicore/Pixabay.com)

Lokasi Toko Kami